Penentuan Hilal - Mengalah Demi Ummat
Oleh : Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Kritik saya terhadap hisab (perhitungan astronomis) dan rukyat (pengamatan astronomis) yang dilakukan oleh dua ormas besar Muhammadiyah dan NU sudah lama saya lakukan, sejak tahun 1990-an. Kritik tersebut untuk mendorong penyempurnaan metode dan kriterianya. Kritik saya sampaikan dalam forum seminar, pelatihan, diskusi internal ormas, maupun melalui tulisan di media massa. Alhamdulillah, hal itu bisa saya lakukan karena saya sering diundang sebagai nara oleh NU, Muhammadiyah, dan Persis, tiga ormas Islam yang aktif melakukan hisab rukyat.
Mengapa saya fokuskan perhatian pada dua ormas besar tersebut? Berbeda dengan kelompok-kelompok kecil yang anggotanya hanya puluhan orang, dua ormas besar itu punya anggota dan simpatisan yang sangat banyak (mungkin jutaan orang) yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Perbedaan penentuan hari raya oleh dua ormas tersebut berdampak secara nasional. Diakui atau tidak, banyak masyarakat yang tidak nyaman dengan terjadinya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. Ibadah yang terkait dengan hari raya bukan lagi ibadah privat, tetapi telah menjadi ibadah publik yang menuntut adanya keseragaman waktu. Pemerintah tidak bisa berlepas tangan terkait dengan penentuan waktu ibadah yang bersifat publik tersebut.
Atas kritik saya dan teman-teman pelaksana kajian astronomi di berbagai kelompok masyarakat, NU dan Persis sudah menunjukkan banyak perubahan, sehingga banyak kritik saya tahun 1990-an dan awal 2000-an kini tak relevan lagi. Tetapi Muhammadiyah sangat rigid, kaku, dan sulit berubah. Muhammadiyah merasa cukup puas dengan metode hisab wujudul hilalnya, tanpa menyadari bahwa wujudul hilal bukan satu-satunya kriteria hisab. Justru wujudul hilal merupakan kriteria usang yang sudah ditinggalkan komunitas astronomi, beralih ke kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal, kemungkinan terlihatnya hilal). Sayangnya, tanpa pemahaman yang benar, banyak warga Muhammadiyah yang menolak imkan rukyat hanya karena anggapan keliru seolah imkan rukyat adalah metode rukyat yang mereka hindari. Imkan rukyat adalah kriteria hisab yang bisa digunakan oleh hisab dan rukyat, karenanya banyak digunakan oleh komunitas astronomi yang menganggap hisab dan rukyat setara.
Mengalah Demi Ummat
Dalam beberapa kesempatan Kementerian Agama dan ormas-ormas Islam selalu menyuarakan upaya persatuan ummat. Kalau pun ada perbedaan, upayakan perbedaan itu tidak ditampakkan ke publik jauh-jauh hari agar tidak menimbulkan kebimbangan yang panjang. Terkait dengan penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, di Indonesia ada dua metode utama: rukyat (pengamatan astronomis) dan hisab (perhitungan astronomis). Komunitas astronomi selalu berupaya memberikan kesadaran bersama bahwa hisab dan rukyat bukan dua hal yang berbeda yang harus dipertentangkan.
Kelompok pengamal rukyat (diwakili NU) kadang mengagungkan dalilnya, tetapi kurang mempublikasi hasil awalnya karena selalu menghindar dengan ungkapan, ”kita tunggu saja hasil rukyat”. Mereka sebenarnya sudah punya hasil hisab seperti yang dimiliki kelompok pengamal hisab, tetapi hasil hisabnya digunakan sekadar untuk pemandu rukyat, bukan sepenuhnya menjadi dasar pengambilan keputusan. Selain untuk pemandu rukyat, hasil hisab mereka gunakan untuk membuat kalender. Kriteria hisabnya dikaitkan dengan kemungkinan rukyat (imkan rukyat).
Kelompok pengamal hisab (diwakili oleh Muhammadiyah dan Persis – Persatuan Islam – ) kadang mengagungkan dalil dan hasil hisabnya. Mereka bisa mempublikasikan hasil hisab mereka lebih awal sehingga terkesan ”hebat” karena bisa menentukan sebelum rukyat. Persis sebagai ormas kecil tidak terlalu tampak sehingga luput dari perhatian media massa. Sebaiknya, Muhammadiyah sebagai ormas besar selalu menjadi sorotan publik atau sengaja mempublikasikan hasil hisabnya dalam suatu jumpa pers, walau Kementerian Agama selalu mengimbau untuk tidak mengumumkannya.
Walau Muhammadiyah dan Persis sama-sama pengamal hisab, namun ada perbedaan kriteria yang digunakan. Persis menggunakan kriteria imkan rukyat, sedangkan Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal. Jadilah ormas Islam pelaksana hisab rukyat terpecah menjadi dua: sebagian besar menggunakan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) dan hanya Muhammadiyah menggunakan wujudul hilal.
Upaya untuk menyatukan sudah sering dilakukan, tetapi Muhammadiyah tetap bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya. Manakah yang lebih baik antara wujudul hilal dan imkan rukyat? Untuk memutuskannya bukan dalil fiqih atau syariah yang dijadikan dasar, karena itu sudah soal pilihan teknis astronomis. Pada kriteria itu sama sekali tidak ada terminologi fiqih, yang ada adalah terminologi astronomi. Jadi, itu domainnya astronom, bukan domainnya fuqaha.
Secara astronomi, wujudul hilal adalah kriteria usang, ketika ahli hisab tidak mampu memformulasikan atau tidak mau direpotkan dengan kriteria rukyat. Sekarang banyak makalah astronomi yang mengkaji visibilitas hilal atau kemungkinan terlihatnya hilal yang dapat dijadikan rujukan. Hasil kajian tersebut kini banyak diformulasikan menjadi kriteria imkan rukyat atau visibilitas hilal. Tentu saja banyak kriteria imkan rukyat yang ditawarkan. Di internet kita bisa mencari ada beberapa kriteria: kriteria Ilyas, Yallop, Odeh, SAAO, dan lainnya. Di Indonesia ada kriteria MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), LAPAN (versi lama, tahun 2000), RHI, dan usulan baru dari LAPAN berupa Kriteria Hisab Rukyat Indonesia. Saat ini sebagian besar ormas Islam di Indonesia menggunakan kriteria MABIMS yang disepakati pada tahun 1990-an, walau saat ini perlu direvisi.
Demikian mudahkah mengubah kriteria? Ya, sangat mudah. Persis sudah beberapa kali mengubah kriterianya mengikuti perkembangan pemikiran astronomis. Logika sederhananya, karena masalah kriteria hanyalah masalah teknis astronomis, bukan masalah dalil fiqih, semestinya bisa lebih sederhana. Sama halnya dengan pilihan kriteria waktu shalat. Dari sekian banyak pilihan kriteria astronomi waktu shalat, kita sudah bersepakat dengan kriteria yang saat ini digunakan oleh Kementerian Agama, sehingga apa pun ormasnya kini bisa membuat jadwal shalat yang relatif sama. Adzan di masjid sama dengan adzan di TV, radio, atau jadwal shalat terprogram di berbagai perangkat lainnya.
Bisakah kita mempersatukan kriteria awal bulan, sama dengan kriteria jadwal shalat? Semestinya bisa. Dari dua pilihan, kita gunakan saya kriteria imkan rukyat, karena kriteria itu mempersatukan metode hisab dan rukyat yang diamalkan di masyarakat Muslim di Indonesia dan internasional. Kriteria wujudul hilal yang sudah usang kita tinggalkan. Mari kita pilih kriteria imkan rukyat yang baru yang bisa menggantikan kriteria MABIMS yang selama ini digunakan oleh banyak ormas Islam, namun ditolak Muhammadiyah.
Kalau Muhammadiyah masih bersikukuh menggunakan kriteria wujudul hilal yang usang tersebut, sudah pasti perbedaan hari raya dan awal Ramadhan di Indonesia masih akan terus terjadi, karena hisab wujudul hilal jelas-jelas menjauhkan diri dari rukyat. Dari segi hisabnya, sudah pasti itu menyimpang dari kriteria yang banyak digunakan oleh ormas-ormas Islam lainnya. Dari segi potensi perbedaan, sangat jelas pasti akan selalu terjadi perbedaan dengan hasil rukyat ketika tinggi bulan sudah positif, tetapi kurang dari kriteria imkan rukyat.
Sebagai organisasi mujadid (pembaharu), sebenarnya Muhammadiyah tidak terlalu asing dengan perubahan. Semoga jiwa besar Muhammadiyah bisa membawa perubahan besar di ummat ini dan mendorong terwujudnya Kalender Hijriyyah tunggal yang mapan dan mempersatukan ummat. Tanpa kita memulainya sekarang, penyatuan kalender hijriyah hanya menjadi wacana teoritik yang belum tentu aplikatif. Saya menghargai kata akhir Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Syamsul Anwar pada dialog kedua tim teknis NU-Muhammadiyah 6 Desember 2007 lalu yang mengajak NU-Muhammadiyah ”mengalah demi ummat”. Semoga penyatuan kalender hijriyah dapat segera terwujud, karena itu keinginan ummat. Saya sekadar menyuarakannya dan memformulasikannya.
Next
Kamis, 25 Oktober 2012
Rabu, 20 Juli 2011
Pancasila Pernah Keok
SURABAYA | SURYA Online - Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KHA Hasyim Muzadi menegaskan Pancasila merupakan ideologi yang diakui dunia, tetapi praktiknya pernah dibelokkan ke kiri, kanan, lalu tidak berbelok kemana-mana atau mati.
“Di era Orde lama, Pancasila keok, karena terlalu ke kiri, lalu di era Orde baru justru terlalu ke kanan, dan di era Orde Reformasi justru jalan di tempat karena tidak berbelok kemana-mana atau mati,” katanya dalam seminar nasional di gedung Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Sabtu (18/6/2011).
Menurut mantan Ketua Umum PB NU itu, Pancasila di era Orde Reformasi justru disalahkan, karena Pancasila dianggap sebagai biang kesalahan yang ada, dan Pancasila dianggap tidak mampu memberikan jawaban sama sekali.
“Padahal, apa yang terjadi itu akibat dari kita yang tidak ‘manut’ (patuh) kepada Pancasila, sehingga terjadi keuangan yang maha kuasa, kemanusiaan yang tidak beradab, persatuan yang tidak ada lagi, kepemimpinan yang jalan sendiri tanpa peduli nasib rakyat, serta keadilan sosial, ekonomi, dan hukum yang mirip jauh panggang dari api,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam di Malang dan Depok itu mengatakan banyak ulama besar di dunia mengakui kebenaran ulama Indonesia memilih konsep “negara-bangsa” dengan Pancasila sebagai dasar negara.
“Banyak ulama besar di dunia yang membenarkan ulama Indonesia dalam memilih konsep negara bangsa, karena kalau di suatu negara itu ada lebih dari satu agama, maka konsep yang benar adalah ‘Dzimmiatul Islam’. Jadi, NU lebih maju dari orang lain, bahkan di dunia,” katanya.
Ia menilai Pancasila merupakan ideologi pemersatu dan pembeda. Pancasila merupakan pemersatu bagi negara dengan multiagama, sedangkan Pancasila sebagai pembeda merupakan ideologi yang tidak sekuler dan tidak agamis.
“Pancasila yang tidak memilih negara sekuler dan negara agama, melainkan negara bangsa, itu bukan berarti meniadakan agama, tetapi agama yang diadopsi bukanlah tekstual, melainkan nilai-nilai agama. Misalnya, Undang-undang Antikorupsi itu sangat agamis,” katanya.
“Di era Orde lama, Pancasila keok, karena terlalu ke kiri, lalu di era Orde baru justru terlalu ke kanan, dan di era Orde Reformasi justru jalan di tempat karena tidak berbelok kemana-mana atau mati,” katanya dalam seminar nasional di gedung Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Sabtu (18/6/2011).
Menurut mantan Ketua Umum PB NU itu, Pancasila di era Orde Reformasi justru disalahkan, karena Pancasila dianggap sebagai biang kesalahan yang ada, dan Pancasila dianggap tidak mampu memberikan jawaban sama sekali.
“Padahal, apa yang terjadi itu akibat dari kita yang tidak ‘manut’ (patuh) kepada Pancasila, sehingga terjadi keuangan yang maha kuasa, kemanusiaan yang tidak beradab, persatuan yang tidak ada lagi, kepemimpinan yang jalan sendiri tanpa peduli nasib rakyat, serta keadilan sosial, ekonomi, dan hukum yang mirip jauh panggang dari api,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam di Malang dan Depok itu mengatakan banyak ulama besar di dunia mengakui kebenaran ulama Indonesia memilih konsep “negara-bangsa” dengan Pancasila sebagai dasar negara.
“Banyak ulama besar di dunia yang membenarkan ulama Indonesia dalam memilih konsep negara bangsa, karena kalau di suatu negara itu ada lebih dari satu agama, maka konsep yang benar adalah ‘Dzimmiatul Islam’. Jadi, NU lebih maju dari orang lain, bahkan di dunia,” katanya.
Ia menilai Pancasila merupakan ideologi pemersatu dan pembeda. Pancasila merupakan pemersatu bagi negara dengan multiagama, sedangkan Pancasila sebagai pembeda merupakan ideologi yang tidak sekuler dan tidak agamis.
“Pancasila yang tidak memilih negara sekuler dan negara agama, melainkan negara bangsa, itu bukan berarti meniadakan agama, tetapi agama yang diadopsi bukanlah tekstual, melainkan nilai-nilai agama. Misalnya, Undang-undang Antikorupsi itu sangat agamis,” katanya.
Jumat, 15 Juli 2011
sanreefam: PELAMPUNG MANCING BARONANG
sanreefam: PELAMPUNG MANCING BARONANG: "Salam sejahtera buat baronang mania se jagad raya... pada kesempatan ini saya akan mengulas sedikit tentang pelampung/umbul buat mancing b..."
Rabu, 08 Juni 2011
Hisap Payudara untuk Cegah Kanker
PAYUDARA bagi seorang wanita, merupakan sebuah bagian dari tubuh yang sangat pribadi. Jelas seorang wanita akan menjadi sangat marah, dan melaporkan Anda ke Polisi, jika tanpa alasan yang jelas Anda menyentuh payudara mereka. Tapi tampaknya para wanita itu harus berpikir ulang setelah membaca berita dibawah ini.
Kanker payudara merupakan momok yang menakutkan bagi para wanita diseluruh dunia. Sebuah berita kesehatan yang dikutip BBC disebutkan, jika ternyata para wanita membutuhkan peran aktif para lelaki untuk mencegah kanker tersebut menjangkit mereka. Bagaimana bisa?
Dilansir dari halaman BBC, yang mengutip anjuran Departemen Kesehatan Inggris dengan tema "Melawan Kanker Payudara" para dokter menyarankan, payudara seorang wanita yang dihisap secara teratur akan sangat bagus untuk mengurangi risiko terhindar kanker payudara. Berikut ini lampiran kalimat yang menghibur bagi para lelaki tersebut.
"Pengisapan payudara secara teratur akan menurunkan tingkat risiko yang cenderung menyebabkan berkembangnya kanker payudara," katanya.
Payudara yang disedot secara teratur dan sesering mungkin akan melawan pertumbuhan kanker pada seorang wanita. Bagi para wanita waspadailah pasangan Anda begitu usai membaca berita ini. Bagaimana tidak, mereka pasti akan menjadi lebih "nakal" daripada biasanya pada Anda.
Tetapi sebaliknya, apabila mereka adalah pasangan sah Anda, Anda dapat memanfaatkan cara tersebut menjadi sebuah terapi kesehatan yang menyenangkan bagi Anda dan pasangan. Ceritakanlah perihal artikel ini dan keinginan Anda terhindar dari ganasnya kanker payudara dengan jujur dan apa adanya.
Selasa, 18 Januari 2011
Jadi Entrepreneur atau Jadi Kulinya Entrepreneur ?
Ho'oh anak-anak sekarang memang beda, lebih berani...
Jaman saya lulus dulu juga ada beberapa, tapi tidak sebanyak sekarang. Generasi 2000-an ke atas ini memang lebih hebat-hebat, lebih kreatif dan berani, bikin ortu ketar-ketir pastinya.
http://www.rendymaulana.com/archives/2007/04/14/jadi-entrepreneur-atau-jadi-kulinya-entrepreneur/
Jadi Entrepreneur, atau Jadi Kulinya Entrepreneur ?
Akhir-akhir ini pertanyaan senada ini banyak sekali didengungkan oleh teman-teman saya di milis internal SBM, intinya satu, mereka mengalami kegalauan dalam menemukan tujuan hidup, apakah akan menjadi entrepreneur, apakah akan jadi kuli dari entrepreneur yang sudah ada ?
Masalahnya, di SBM sendiri ada dua kubu dan dua kepentingan yang cukup kuat diluar kubu dan kepentingan lain, disatu sisi harus bisa menciptakan pekerja yang bisa mengerjakan pekerjaan bisnis administratif (jadi kalo ngelamar kerja di perusahaan bisa mengerjakan pekerjaannya dan ngga malu-maluin), disatu sisi juga harus bisa menciptakan entrepreneur yang cukup handal, sementara kubu entrepreneur agak sulit berkomunikasi dengan kubu pekerja yang notabenenya adalah anak-anak yang pintar serta dosen-dosen yang betul betul ngelotok dengan bidang keilmuannya (kebanyakan yang rajin dan jago berhubungan dengan angka dan memiliki IP (indeks prestasi) cukup tinggi), karena yang memiliki cita rasa entrepreneurship ini memiliki kesan orang yang pengangguran serta urakan dan tidak memiliki masa depan yang pasti!
ITU ADALAH PEMIKIRAN YANG SALAH TENTANG ENTREPRENEUR!
Mengapa demikian ? Entrepreneur adalah orang yang pandai melihat peluang, dan itu adalah pasti, tidak mungkin dia menawarkan sesuatu produk jika kliennya sedang bermasalah, mayoritas adalah salesman yang baik, meski tidak semua, tetapi justru mayoritas entrepreneur yang baik yang sering saya temui, kebanyakan bermain aman, dalam arti tidak mau menawarkan sesuatu yang ia tidak bisa sanggupi kepada kliennya, dan ketika hal itu tidak bisa ia sanggupi karena diluar kemampuannya, ia akan meminta maaf dan menggantinya dengan hal lain yang bisa ia perbuat, bukan malah kabur dan tidak bertanggung jawab.
Saya sendiri lebih suka untuk dikenal oleh orang lain sebagai Entrepreneur (meski wannabe), bukan sebagai mahasiswa, mohon maaf, karena agak malu dengan citra mahasiswa yang sekarang lebih cenderung negatif (tukang demo) dan pemalas (ngga rajin kerja, belajar doang). Full Time Entrepreneur istilahnya, dan Part Time Blogger, keduanya adalah pekerjaan saya, mahasiswa ? oh, saya hanya numpang kuliah saja mengisi waktu luang, sekalian mencari rekanan bisnis dan juga teori yang bisa disesuaikan dengan kehidupan nyata dan bisnis… (kebanyakan dari teori tidak bisa diterapkan)
Mengapa demikian kekeuhnya saya Ingin menjadi Entrepreneur ? perhatikan skema berikut :
Jika anda adalah seorang yang baru lulus kuliah (kurang lebih usia disekitar 20-24 tahun), berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membeli sebuah mobil Honda Jazz ?
Anda melamar sebuah pekerjaan di kantor yang bergengsi, masuk jam 7 pagi sedang rumah anda berjarak 30 km dari tempat kerja anda, tentunya anda harus bangun pagi pagi sekali agar tidak terlambat, karena jika terlambat anda akan dipotong gajinya, dan anda baru bisa pulang malam karena harus lembur untuk mendapatkan uang tambahan.
Anggap anda memiliki penghasilan 3 juta per bulan, tinggal di Bandung, dikurangi pengeluaran (kosan, rokok, makan, pacaran, komunikasi, ongkos, dll) anda bisa memiliki tabungan sebesar Rp.800.000 per bulan, tentunya harus memikirkan biaya untuk pernikahan (jika belum menikah) dan asumsi ini merupakan asumsi bagi anda yang masih single, bagaimana jika anda sudah berkeluarga ?
sedang harga honda Jazz patoklah Rp.157.000.000 (kalo ngga salah) berapa tahun lagi anda baru mendapatkan benda ini ? silakan bagi sendiri,
kenyataannya untuk mendapatkan gaji 3 juta sebulan di Bandung bagi fresh graduate itu bukanlah hal yang mudah, anda harus bersaing bersama ribuan pengangguran lainnya untuk mendapatkan pekerjaan itu, dan juga harus bekerja dibawah tekanan dan hidup yang tidak sehat, ujung-ujungnya biaya yang dikeluarkan oleh anda untuk berobat dirumah sakit, akan menghabiskan tabungan yang selama ini anda pegang. Belum lagi ada risiko pengurangan pegawai, dimana ketika anda sakit dan masuk rumah sakit, anda bisa saja dikeluarkan karena kelamaan tidak masuk kerja / kerja anda kurang produktif, selain itu juga perusahaan tidak memerlukan anda lagi karena umur anda sudah tua dan tidak kreatif lagi..
Belum lagi jika anda sudah berkeluarga, dan memiliki anak yang hendak punya motor / mobil,
Ujung-ujungnya demi beli Honda Jazz, anda jadi korupsi, entah itu waktu anda bekerja di kantor, maupun finansial kantor (naudzubillahimindzalik)
hmmm menyakitkan bukan ? ketika muda terlena oleh pekerjaan dan diiming imingi pensiun yang besar, tahunya di jalan diputuskan orang lain, itu karena nasib anda ditentukan oleh Boss, bukan oleh diri anda sendiri.
Perbedaan lain ketika menjadi Entrepreneur, terlihat sedikit pengangguran, penghasilan anda ditentukan oleh kompetensi dan kemampuan anda sendiri, terutama kemampuan untuk memanage dan mencari peluang, serta berkomunikasi menawarkan barang dagangan anda keorang lain. Jam kerja Entrepreneur terkadang tidak menentu, terkadang bisa lebih gila lagi daripada karyawan, tetapi tidak di push oleh atasan melainkan oleh tuntutan dirinya sendiri.
Jadi Entrepreneur cukup menjanjikan dibanding mencari pekerjaan, karena bisa dimulai dari modal yang tidak terlalu besar, dan juga waktu yang tidak terbatas, kapanpun ketika anda di PHK sekalipun, anda bisa menjadi entrepreneur, satu satunya modal yang harus anda kuat miliki adalah KEMAUAN, baru kemudian rekanan dan juga keuangan.
Jika anda sadar, ada gabungan diantara keduanya, yakni Partnership, seseorang bisa menjadi Entrepreneur, dan juga bisa menjadi Karyawan, contohnya, jika anda memiliki ide bisnis tetapi tidak memiliki modal untuk menjalankannya, anda bisa menjual ide bisnis tersebut kepada orang lain yang memiliki modal, ini namanya sistem investasi, atau anda bisa mencari pekerjaan paruh waktu selagi anda menjalankan usaha anda, untuk menambah modal finansial. Pekerjaan paruh waktu ini bisa berupa konsultan, blogger, atau mengerjakan proyek proyek yang kecil kecilan.
Saya rasa, tidak ada alasan untuk seorang dosen untuk tidak menjadi Entrepreneur, waktu yang dia miliki bisa ia pilih, antara untuk riset, proyekan, mengajar, buat usaha, atau untuk keluarga dan masyarakat, dan juga untuk seorang yang baru lulus kuliah untuk menjadi entrepreneur, karena seharusnya sewaktu kuliah ia memiliki banyak teman yang mungkin bisa diajak bekerja sama olehnya membangun kerajaan bisnis.
Untuk menjadi Entrepreneur, perlu dukungan yang amat sangat kuat, mulai dari keluarga, pacar, teman, orang tua, bahkan sampai dukungan dari pihak kemanan, jika ada teman / saudara anda yang hendak menjadi pengusaha, dimohon untuk mendukungnya 100% karena ini berkaitan dengan masa depan dan juga mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.
Untuk teman-teman yang masih menjadi pengangguran, saran saya marilah buka usaha, menjadi entrepreneur, dan kurangilah jumlah pengangguran di Indonesia…
Kalau kata Ijal & Mimin, Jadi entrepreneur mungkin sulit dimengerti, tidak apa apa, yang penting rekening korannya toh :)
Untuk Astrid, Feiral, Luthfi, Dharma, dll, semoga tulisan ini bisa menjadi pencerahan, Thanks to Pak JH, BPI, DL, yang udah kasih masukan di milis, serta temen-temen yang udah ngedukung, dan juga buat orang-orang yang menjadi cerminan hidup saya dan sudah memberi pencerahan untuk saya baik dimasa lalu, hari ini, dan mendatang…
Jika anda lulus kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bergengsi, berarti anda maju 5 langkah dari orang lain yang baru lulus kuliah, sedangkan jika anda sewaktu kuliah sudah membangun perusahaan anda sendiri, entah itu bergengsi atau tidak dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, itu sudah maju 100 langkah dari orang yang maju 5 langkah tadi.
Ohya, Blogger merupakan pekerjaan yang amat menjanjikan, kenapa ? tunggu tanggal mainnya :)
PS : Jika anda adalah seorang entrepreneur, dan ada yang bertanya kepada anda, siapa boss anda, sebaiknya anda menjawab, Tuhan-lah Boss saya sebenarnya, ia menggaji saya dengan kehidupan :)
Jaman saya lulus dulu juga ada beberapa, tapi tidak sebanyak sekarang. Generasi 2000-an ke atas ini memang lebih hebat-hebat, lebih kreatif dan berani, bikin ortu ketar-ketir pastinya.
http://www.rendymaulana.com/archives/2007/04/14/jadi-entrepreneur-atau-jadi-kulinya-entrepreneur/
Jadi Entrepreneur, atau Jadi Kulinya Entrepreneur ?
Akhir-akhir ini pertanyaan senada ini banyak sekali didengungkan oleh teman-teman saya di milis internal SBM, intinya satu, mereka mengalami kegalauan dalam menemukan tujuan hidup, apakah akan menjadi entrepreneur, apakah akan jadi kuli dari entrepreneur yang sudah ada ?
Masalahnya, di SBM sendiri ada dua kubu dan dua kepentingan yang cukup kuat diluar kubu dan kepentingan lain, disatu sisi harus bisa menciptakan pekerja yang bisa mengerjakan pekerjaan bisnis administratif (jadi kalo ngelamar kerja di perusahaan bisa mengerjakan pekerjaannya dan ngga malu-maluin), disatu sisi juga harus bisa menciptakan entrepreneur yang cukup handal, sementara kubu entrepreneur agak sulit berkomunikasi dengan kubu pekerja yang notabenenya adalah anak-anak yang pintar serta dosen-dosen yang betul betul ngelotok dengan bidang keilmuannya (kebanyakan yang rajin dan jago berhubungan dengan angka dan memiliki IP (indeks prestasi) cukup tinggi), karena yang memiliki cita rasa entrepreneurship ini memiliki kesan orang yang pengangguran serta urakan dan tidak memiliki masa depan yang pasti!
ITU ADALAH PEMIKIRAN YANG SALAH TENTANG ENTREPRENEUR!
Mengapa demikian ? Entrepreneur adalah orang yang pandai melihat peluang, dan itu adalah pasti, tidak mungkin dia menawarkan sesuatu produk jika kliennya sedang bermasalah, mayoritas adalah salesman yang baik, meski tidak semua, tetapi justru mayoritas entrepreneur yang baik yang sering saya temui, kebanyakan bermain aman, dalam arti tidak mau menawarkan sesuatu yang ia tidak bisa sanggupi kepada kliennya, dan ketika hal itu tidak bisa ia sanggupi karena diluar kemampuannya, ia akan meminta maaf dan menggantinya dengan hal lain yang bisa ia perbuat, bukan malah kabur dan tidak bertanggung jawab.
Saya sendiri lebih suka untuk dikenal oleh orang lain sebagai Entrepreneur (meski wannabe), bukan sebagai mahasiswa, mohon maaf, karena agak malu dengan citra mahasiswa yang sekarang lebih cenderung negatif (tukang demo) dan pemalas (ngga rajin kerja, belajar doang). Full Time Entrepreneur istilahnya, dan Part Time Blogger, keduanya adalah pekerjaan saya, mahasiswa ? oh, saya hanya numpang kuliah saja mengisi waktu luang, sekalian mencari rekanan bisnis dan juga teori yang bisa disesuaikan dengan kehidupan nyata dan bisnis… (kebanyakan dari teori tidak bisa diterapkan)
Mengapa demikian kekeuhnya saya Ingin menjadi Entrepreneur ? perhatikan skema berikut :
Jika anda adalah seorang yang baru lulus kuliah (kurang lebih usia disekitar 20-24 tahun), berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membeli sebuah mobil Honda Jazz ?
Anda melamar sebuah pekerjaan di kantor yang bergengsi, masuk jam 7 pagi sedang rumah anda berjarak 30 km dari tempat kerja anda, tentunya anda harus bangun pagi pagi sekali agar tidak terlambat, karena jika terlambat anda akan dipotong gajinya, dan anda baru bisa pulang malam karena harus lembur untuk mendapatkan uang tambahan.
Anggap anda memiliki penghasilan 3 juta per bulan, tinggal di Bandung, dikurangi pengeluaran (kosan, rokok, makan, pacaran, komunikasi, ongkos, dll) anda bisa memiliki tabungan sebesar Rp.800.000 per bulan, tentunya harus memikirkan biaya untuk pernikahan (jika belum menikah) dan asumsi ini merupakan asumsi bagi anda yang masih single, bagaimana jika anda sudah berkeluarga ?
sedang harga honda Jazz patoklah Rp.157.000.000 (kalo ngga salah) berapa tahun lagi anda baru mendapatkan benda ini ? silakan bagi sendiri,
kenyataannya untuk mendapatkan gaji 3 juta sebulan di Bandung bagi fresh graduate itu bukanlah hal yang mudah, anda harus bersaing bersama ribuan pengangguran lainnya untuk mendapatkan pekerjaan itu, dan juga harus bekerja dibawah tekanan dan hidup yang tidak sehat, ujung-ujungnya biaya yang dikeluarkan oleh anda untuk berobat dirumah sakit, akan menghabiskan tabungan yang selama ini anda pegang. Belum lagi ada risiko pengurangan pegawai, dimana ketika anda sakit dan masuk rumah sakit, anda bisa saja dikeluarkan karena kelamaan tidak masuk kerja / kerja anda kurang produktif, selain itu juga perusahaan tidak memerlukan anda lagi karena umur anda sudah tua dan tidak kreatif lagi..
Belum lagi jika anda sudah berkeluarga, dan memiliki anak yang hendak punya motor / mobil,
Ujung-ujungnya demi beli Honda Jazz, anda jadi korupsi, entah itu waktu anda bekerja di kantor, maupun finansial kantor (naudzubillahimindzalik)
hmmm menyakitkan bukan ? ketika muda terlena oleh pekerjaan dan diiming imingi pensiun yang besar, tahunya di jalan diputuskan orang lain, itu karena nasib anda ditentukan oleh Boss, bukan oleh diri anda sendiri.
Perbedaan lain ketika menjadi Entrepreneur, terlihat sedikit pengangguran, penghasilan anda ditentukan oleh kompetensi dan kemampuan anda sendiri, terutama kemampuan untuk memanage dan mencari peluang, serta berkomunikasi menawarkan barang dagangan anda keorang lain. Jam kerja Entrepreneur terkadang tidak menentu, terkadang bisa lebih gila lagi daripada karyawan, tetapi tidak di push oleh atasan melainkan oleh tuntutan dirinya sendiri.
Jadi Entrepreneur cukup menjanjikan dibanding mencari pekerjaan, karena bisa dimulai dari modal yang tidak terlalu besar, dan juga waktu yang tidak terbatas, kapanpun ketika anda di PHK sekalipun, anda bisa menjadi entrepreneur, satu satunya modal yang harus anda kuat miliki adalah KEMAUAN, baru kemudian rekanan dan juga keuangan.
Jika anda sadar, ada gabungan diantara keduanya, yakni Partnership, seseorang bisa menjadi Entrepreneur, dan juga bisa menjadi Karyawan, contohnya, jika anda memiliki ide bisnis tetapi tidak memiliki modal untuk menjalankannya, anda bisa menjual ide bisnis tersebut kepada orang lain yang memiliki modal, ini namanya sistem investasi, atau anda bisa mencari pekerjaan paruh waktu selagi anda menjalankan usaha anda, untuk menambah modal finansial. Pekerjaan paruh waktu ini bisa berupa konsultan, blogger, atau mengerjakan proyek proyek yang kecil kecilan.
Saya rasa, tidak ada alasan untuk seorang dosen untuk tidak menjadi Entrepreneur, waktu yang dia miliki bisa ia pilih, antara untuk riset, proyekan, mengajar, buat usaha, atau untuk keluarga dan masyarakat, dan juga untuk seorang yang baru lulus kuliah untuk menjadi entrepreneur, karena seharusnya sewaktu kuliah ia memiliki banyak teman yang mungkin bisa diajak bekerja sama olehnya membangun kerajaan bisnis.
Untuk menjadi Entrepreneur, perlu dukungan yang amat sangat kuat, mulai dari keluarga, pacar, teman, orang tua, bahkan sampai dukungan dari pihak kemanan, jika ada teman / saudara anda yang hendak menjadi pengusaha, dimohon untuk mendukungnya 100% karena ini berkaitan dengan masa depan dan juga mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.
Untuk teman-teman yang masih menjadi pengangguran, saran saya marilah buka usaha, menjadi entrepreneur, dan kurangilah jumlah pengangguran di Indonesia…
Kalau kata Ijal & Mimin, Jadi entrepreneur mungkin sulit dimengerti, tidak apa apa, yang penting rekening korannya toh :)
Untuk Astrid, Feiral, Luthfi, Dharma, dll, semoga tulisan ini bisa menjadi pencerahan, Thanks to Pak JH, BPI, DL, yang udah kasih masukan di milis, serta temen-temen yang udah ngedukung, dan juga buat orang-orang yang menjadi cerminan hidup saya dan sudah memberi pencerahan untuk saya baik dimasa lalu, hari ini, dan mendatang…
Jika anda lulus kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bergengsi, berarti anda maju 5 langkah dari orang lain yang baru lulus kuliah, sedangkan jika anda sewaktu kuliah sudah membangun perusahaan anda sendiri, entah itu bergengsi atau tidak dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, itu sudah maju 100 langkah dari orang yang maju 5 langkah tadi.
Ohya, Blogger merupakan pekerjaan yang amat menjanjikan, kenapa ? tunggu tanggal mainnya :)
PS : Jika anda adalah seorang entrepreneur, dan ada yang bertanya kepada anda, siapa boss anda, sebaiknya anda menjawab, Tuhan-lah Boss saya sebenarnya, ia menggaji saya dengan kehidupan :)
Senin, 03 Januari 2011
Butuh Keberanian Untuk Takut Pada Istri
Takut istri itu terasa seperti aib besar, sangat tidak pria, memalukan, bukti kelemahan dan sebagainya. Lantas apakah meremehkan istri itu prestasi agung, sangat pria, membanggakan, bukti kekuatan dan semacamnya?
Bukankah bisa saja, suami yang takut pada istrinya, adalah suami yang takut merusak pernikahannya, adalah ayah yang takut merampas hak anak-anaknya untuk dibesarkan dalam keluarga yang utuh dan tidak senantiasa rusuh bergemuruh?
Bukankah bisa saja, mereka justru pria sesungguhnya pria, yang mengerti bahwa perempuan itu lebih "fragile", lebih mudah terluka, sehingga harus lebih berhati-hati "menanganinya?"
Juga,apa yang hendak dibuktikan para suami, dengan menunjukkan betapa dia sama sekali tak takut kepada istrinya, dan justru istrinya yang ketakutan setengah mati padanya? "Gua melotot aja, bini gua langsung keder, huahahaha!" Hebat gitu, bisa nakut-nakuti perempuan, dengan tatapan, bentakan atau bahkan pukulan? Dulu, mungkin.
Tapi sekarang sih, yang hebat itu seperti Manny Pacquiao, yang bisa membuat lawan-lawannya, pria-pria yang sangat terlatih, kuat, dan bertubuh lebih besar, ketakutan dan hanya bisa berlari-lari menghindar di atas ring.
Istri adalah inti keluarga. Menghormatinya adalah menghormati keluarga, takut membuatnya marah adalah takut membuat keluarga bermasalah.
Tapi cukup dihormati dong, tidak usah ditakuti.
Rasa hormat tak mungkin sungguh-sungguh ada tanpa rasa takut di dalamnya. Tapi takut bukanlah tunduk. Emangnya takut sama kecoa sama dengan tunduk kepada kecoa? (Eh, kayaknya ini komparasi yang kurang tepat deh). Jadi, itu lebih kepada keengganan untuk membuat masalah dengannya. Sejauh keinginannya bisa dituruti, apalagi alasannya bisa diterima, ya dituruti. Selama "larangannya" pantas diikuti, apalagi seringkali itu untuk kebaikan si suami sendiri, ya diusahakan diikuti.
Mengapa? Karena jika dia senang, dia akan menjadi lebih baik dalam banyak hal; ibu yang lebih baik untuk anak-anak, istri yang lebih baik bagi suami, bahkan menantu yang lebih baik bagi mertuanya. Anaknya adalah anakmu, suaminya adalah dirimu, mertuanya adalah Mbapakmu! Membuatnya bahagia tak lain adalah membahagiakan dirimu sendiri...
Bukankah dengan begitu istri akan ngelunjak, menjadi sok berkuasa? Mungkin dalam satu dua kasus itu terjadi, tetapi umumnya tidak. (Kayaknya sih...)
Justru karena suami yakin seorang istri dikodratkan "mengikut" suaminya, dia yakin, hanya dengan memberinya lebih banyak otoritas, penghormatan, dan "kepatuhan" dia tidak akan serta merta menjadi penguasa.
Mereka yakin, hati seorang wanita "didesain" untuk mengikut, turut, hormat, patuh dan setia kepada pria yang dicintainya. Tentu saja, selama pria itu memang membuat dirinya pantas diikuti, dituruti, dihormati, dipatuhi, dan disetiai.
Saya sendiri, sedang berusaha dan belajar untuk lebih takut kepadanya, apalagi setelah ibu saya, wanita yang paling saya hormati semakin tua, tidak berdaya, dan anak perempuanku, wanita yang harus kujaga sekuat jiwa raga, sudah dan akan terus tumbuh mendewasa.
Tak perlu malu takut dan "tunduk" sama istri. Daripada yang takut dan tunduk sama selingkuhan?
Bukankah bisa saja, suami yang takut pada istrinya, adalah suami yang takut merusak pernikahannya, adalah ayah yang takut merampas hak anak-anaknya untuk dibesarkan dalam keluarga yang utuh dan tidak senantiasa rusuh bergemuruh?
Bukankah bisa saja, mereka justru pria sesungguhnya pria, yang mengerti bahwa perempuan itu lebih "fragile", lebih mudah terluka, sehingga harus lebih berhati-hati "menanganinya?"
Juga,apa yang hendak dibuktikan para suami, dengan menunjukkan betapa dia sama sekali tak takut kepada istrinya, dan justru istrinya yang ketakutan setengah mati padanya? "Gua melotot aja, bini gua langsung keder, huahahaha!" Hebat gitu, bisa nakut-nakuti perempuan, dengan tatapan, bentakan atau bahkan pukulan? Dulu, mungkin.
Tapi sekarang sih, yang hebat itu seperti Manny Pacquiao, yang bisa membuat lawan-lawannya, pria-pria yang sangat terlatih, kuat, dan bertubuh lebih besar, ketakutan dan hanya bisa berlari-lari menghindar di atas ring.
Istri adalah inti keluarga. Menghormatinya adalah menghormati keluarga, takut membuatnya marah adalah takut membuat keluarga bermasalah.
Tapi cukup dihormati dong, tidak usah ditakuti.
Rasa hormat tak mungkin sungguh-sungguh ada tanpa rasa takut di dalamnya. Tapi takut bukanlah tunduk. Emangnya takut sama kecoa sama dengan tunduk kepada kecoa? (Eh, kayaknya ini komparasi yang kurang tepat deh). Jadi, itu lebih kepada keengganan untuk membuat masalah dengannya. Sejauh keinginannya bisa dituruti, apalagi alasannya bisa diterima, ya dituruti. Selama "larangannya" pantas diikuti, apalagi seringkali itu untuk kebaikan si suami sendiri, ya diusahakan diikuti.
Mengapa? Karena jika dia senang, dia akan menjadi lebih baik dalam banyak hal; ibu yang lebih baik untuk anak-anak, istri yang lebih baik bagi suami, bahkan menantu yang lebih baik bagi mertuanya. Anaknya adalah anakmu, suaminya adalah dirimu, mertuanya adalah Mbapakmu! Membuatnya bahagia tak lain adalah membahagiakan dirimu sendiri...
Bukankah dengan begitu istri akan ngelunjak, menjadi sok berkuasa? Mungkin dalam satu dua kasus itu terjadi, tetapi umumnya tidak. (Kayaknya sih...)
Justru karena suami yakin seorang istri dikodratkan "mengikut" suaminya, dia yakin, hanya dengan memberinya lebih banyak otoritas, penghormatan, dan "kepatuhan" dia tidak akan serta merta menjadi penguasa.
Mereka yakin, hati seorang wanita "didesain" untuk mengikut, turut, hormat, patuh dan setia kepada pria yang dicintainya. Tentu saja, selama pria itu memang membuat dirinya pantas diikuti, dituruti, dihormati, dipatuhi, dan disetiai.
Saya sendiri, sedang berusaha dan belajar untuk lebih takut kepadanya, apalagi setelah ibu saya, wanita yang paling saya hormati semakin tua, tidak berdaya, dan anak perempuanku, wanita yang harus kujaga sekuat jiwa raga, sudah dan akan terus tumbuh mendewasa.
Tak perlu malu takut dan "tunduk" sama istri. Daripada yang takut dan tunduk sama selingkuhan?
Selasa, 21 Desember 2010
5R Kaizen : Perbaikan Lingkungan Kerja dan Produktivitas Karyawan
Kaizen berasal dari bahasa Jepang "Kai" yang artinya "perubahan/perbaikan" dan "Zen" berarti "baik".
Kaizen merupakan sistem pengambangan produktivitas, kualitas, teknologi, proses produksi, budaya kerja, keamanan kerja, dan kepemimpinan yang dilakukan terus menerus. Salah satu metode perubahan dan perbaikan yang dilakukan banyak perusahaan adalah menerapkan 5S / 5R.
5S / 5R adalah cara untuk meningkatkan produktivitas dengan melakukan kegiatan menata tempat kerja. Lingkungan kerja yang nyaman, dan teratur akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas yang tinggi di perusahaan.
Di Jepang, cara ini sudah menjadi budaya kerja dan dikenal dengan 5S, sedangkan di Indonesia disebut 5R, yaitu :
1. Seiri = Ringkas
2. Seiton = Rapi
3. Seiso = Resik
4. Seiketsu = Rawat
5. Shitsuke = Rajin
5S / 5R di atas merupakan urutan dalam menata tempat kerja, yang merupakan tanggung jawab semua pekerja, mulai dari CEO sampai Cleaning Service. Setiap pekerja bertanggung jawab melakukan penataan tempat kerja ke arah yang lebih baik, dan ini harus menjadi BUDAYA perusahaan.
Seiri < Ringkas >
Membuang barang-barang yang tidak diperlukan, dan menyimpang barang yang diperlukan dengan cara tertentu agar mudah diakses ketika dibutuhkan.
Langkah langkah RINGKAS :
1. Cek barang di area kerja masing masing.
2. Tentukan kategori barang yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan.
3. Beri label merah utk barang yang tidak dibutuhkan.
4. Siapkan tempat untuk membuang barang barang yang tidak dibutuhkan.
5. Secara berkala, buanglah barang barang berlabel merah ke tempat yang telah disiapkan.
Seiton < Rapi >
Menyimpan barang sesuai dengan tempatnya. Kerapian adalah seberapa cepat kita menyimpan barang, dan seberapa cepat kita mengambilnya kembali ketika dibutuhkan.
Langkah-langkah RAPI :
1. Rancang metode penempatan barang yang diperlukan, sehingga mudah didapatkan kembali saat dibutuhkan.
2. Tempatkan barang-barang yang diperlukan ke tempat yang telah dirancang dan disediakan.
3. Beri label/identifikasi untuk mempermudah penggunaan maupun pengembalian ke tempat semula.
Seiso < Resik >
Membersihkan tempat kerja/lingkungan kerja, mesin/peralatan, dan barang-barang lain, agar tidak terdapat debu dan kotoran. Kebersihan harus dilaksanakan dan dibiasakan oleh tiap karyawan.
Langkah-langkah RESIK :
1. Sediakan sarana kebersihan.
2. Pembersihan tempat kerja secara berkala.
3. Peremajaan tempat kerja.
4. Pelestarian Resik
Seiketsu < Rawat >
Mempertahankan hasil yang telah dicapai pada 3R sebelumnya dengan menstandarisasikannya.
Langkah-langakh RAWAT :
1. Tetapkan standar kebersihan, penempatan, dan penataan.
2. Komunikasikan ke setiap karyawan yang sedang bekerja di tempat kerja.
Shitsuke < Rajin >
Terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Rajin di tempat kerja berarti pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja.
Langkah langkah melakukan RAJIN :
1. Tentukan Target bersama.
2. Teladan atasan.
3. Komunikasi di lingkungan kerja.
4. Kesempatan belajar.
Bagaimana memulai 5S 5R di organisasi Anda ?
1. Buat komitmen untuk melaksanakan 5S/5R.
2. Lakukan pelatihan 5S/5R.
3. Bentuk organisasi kecil untuk implementasi 5S/5R.
4. Publikasikan 5S/5R melalui : banner, spanduk, poster, papan pengumuman, agar dipahami oleh semua departemen.
5. Siapkan bahan dan sarana 5S/5R.
6. Lakukan inspeksi secara berkala dan berkelanjutan, analisa perkembangannya, lakukan koreksi bila ada kekurangan, dan buat jadwal perbaikan.
7. Terapkan "reward dan punishment" melalui kompetisi antar departemen.
Manfaat 5S / 5R :
1. Lingkungan kerja lebih nyaman, aman, dan bekerja lebih cepat.
2. Peningkatan produksi, tanpa menambah area kerja.
3. Produktivitas SDM meningkat.
4. Penghematan yang diperoleh dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Dengan 5R Kaizen, maka seluruh pekerja akan :
Lebih nyaman,
Lebih efisien,
Lebih produktif,
Lebih sejahtera...
Lebih nyaman,
Lebih efisien,
Lebih produktif,
Lebih sejahtera...
Langganan:
Postingan (Atom)



